Berdamai dengan baby blues - deviratnaningayu.com

Berdamai dengan Baby Blues


Berdamai dengan baby blues - deviratnaningayu.com

 

Hello, readers!

Beberapa waktu lalu saya membaca blog seorang kawan yang pernah mengalami baby blues, saya pun akhirnya tergerak untuk menulis pengalaman saya seputar baby blues supaya teman-teman ataupun readers yang sedang menanti kelahiran buah hati dapat mengantisipasinya. Jangan sampai teman-teman dan readers terjangkit baby blues seperti saya.

Yes, saya pernah mengalami baby blues. Saya mengidap baby blues selama dua bulan. Baby blues ringan sih, gak pakai acara benci bayi dan pengen banting anak, tapi bikin tiap hari nangis terus (berkali-kali). Suami salah ngomong dikitΒ  nangis. Ditinggal nyokap pulang ke kampung, nangis. Dan yang paling salah dari semua itu, saya baru berani ngomong ke orang-orang mengalami baby blues setelah gejalanya hilang, yang mana itu salah. Harusnya dari awal saya berani bilang ke keluarga bahwa saya membutuhkan bantuan.

Jadi baby blues saya ini lebih karena ketidak seimbangan hormon di tubuh setelah proses persalinan plus kelelahan setelah melahirkan, mengurus bayi, dan beberes rumah. Bagaimana tidak, setelah persalinan normal yang kontraksinya dimulai jam 3 sore dan bayinya lahir jam 22.20 malam, badan saya remuk redam dan harus langsung terjaga ngurusin bayi. Saya baru punya kesempatan pijat badan setelah persalinan sebulan kemudian!

Ihwal tak sempat pijat dan ngurus badan ini dikarenakan beberapa hari setelah lahir anak saya kuning (jaundice) dan harus menginap di RS kurang lebih empat hari tiga malam untuk disinar biru. Jadi berhari-hari saya nungguin bayi di RS, supaya dia bisa nenen langsung dari saya. Kondisi ini rupanya memicu saya stress, jagain bayi di RS cuma sama suami dan tak jarang hanya sendiri saja. Hasilnya Air Susu saya mengalir kurang lancar. Air susu tidak lancar ini saya ketahui saat memerah ASI untuk dijadikan stok #babyD di malam – pagi hari saat saya pulang ke rumah. Dokter pun meresepkan suplemen penambah ASI buat saya.

Setelah bayi saya pulang ke rumah, gantian saya yang sakit. Saya terkena virus morbili. Awalnya bidan setempat mengira saya alergi, namun setelah dua hari merah-merah di badan tidak sembuh, saya pun ke dokter. Dokter bilang itu virus morbili. Saya dilarang menyusui dan tidur dengan bayi sampai kurang lebih 8 hari karena dikhawatirkan dapat menularkan virus tersebut kepada bayi. Jadi kegiatan saya selain nyuci popok, beberes rumah, dan ngurusin bayi adalah memerah ASI untuk stok minum #babyD.

#babyD ini pun punya sifat tidak sabaran, kalau minum susu harus langsung dapat yang banyak, males ngenyot, Bubu yang mompa ASI pun jadi tambah stress, tak jarang susu yang keluar sedikit saja. Baby blues saya pun tambah menjadi, nangis terus. Pernah suatu malam anak saya menangis dan saya tidak mau bangun, waktu itu yang bangun akhirnya mama yang sedang ke rumah dan suami saya buat ngasih ASIP ke bayi.

Tante saya di Bandung dan Mama sempat menawarkan kepada saya untuk menghabiskan sisa cuti melahirkan di rumah mereka, tapi saya keberatan. Hal ini disebabkan cuaca Bandung yang lebih dingin daripada Jakarta, sedangkan anak saya nantinya sehari-hari di Jakarta dengan cuaca yang panas. Saya ingin anak saya beradaptasi dengan suhu dan kondisi udara Jakarta sedari dini, apalagi rumah kontrakan saya tidak pakai AC, hanya kipas angin. Apabila anak ini dibawa ke Bandung walhasil proses adaptasi ini kemungkina besar gagal, dan hal ini terbukti dengan salah satu keponakan saya. Sepupu saya yang membawa pulang anaknya ke Cibinong langsung membeli AC di hari pertama mereka pulang karena anaknya menangis terus dikarenakan suhu yang berbeda jauh dengan Bandung.

Keberatan saya yang kedua adalah dokter anak. Bayi saya ini pasti akan sering jumpa dokter anak untuk imunisasi dan pengecekan kesehatan, dan terus terang saya malas gonta-ganti dokter anak. Walaupun pada akhirnya di kemudian hari #babyD sering berjumpa dokter anak dengan spesialisasinya sendiri, namun dia punya dokter tetap.

Adapun tawaran menghabiskan cuti di rumah Mama di Malang juga saya abaikan selain karena dua faktor di atas (suhu yang lebih dingin dan dokter anak) ditambah keengganan saya untuk naik transportasi umum dengan durasi yang cukup lama di saat usia #babyD masih di bawah enam bulan. Masa iya anak bayi yang antibodinya belum sempurna harus ngalah sama keegoisan orangtua.

Seperti lazim diketahui, transportasi umum dan area umum seperti terminal, stasiun serta bandara adalah melting pot berbagai macam orang dan tentunya virus penyakit. Ada kasus anaknya teman saya yang terjangkit virus saluran pernafasan dan pencernaan saat bepergian dengan kereta api. Saya ingin memperkecil kemungkinan tersebut. Alangkah baiknya apabila bayi yang masih membangun antibodinya ini tidak terlalu sering dibawa ke tempat berkumpulnya berbagai macam penyakit seperti mall, transportasi umum, stasiun, terminal, bandara.

Nah, berkaca dari cerita saya di atas, sangat jelas terbaca bukan bahwa selain perubahan hormon, faktor kelelahan adalah salah satu pemicu babyblues. Jadi, buat teman-teman yang hendak melahirkan, tidak ada salahnya booking kehadiran mama atau mama mertua untuk hadir menemani saat persalinan dan mengurus bayi minimal 40 hari pertama. Buat ibu baru, apalagi anak pertama, perkara memandikan bayi saja bisa bikin panas dingin. Waktu itu sih saya belajar memandikan bayi dari bidan setempat, walaupun ternyata ilmu merawat bayinya sudah tidak sejalan dengan perkembangan ilmu kedokteran terbaru.

Kalau memang mama atau mertua tidak bisa hadir, tidak ada salahnya mempekerjakan asisten rumah tangga untuk membantu pekerjaan rumah atau babysitter untuk membantu mengurusi bayi yang baru lahir.

Baby blues saya sendiri mulai reda setelah saya menemukan Ibu di sekitar tempat saya tinggal yang mau membantu pekerjaan rumah semacam nyapu, ngepel dan setrika. Walaupun beliau datangnya cuma seminggu tiga kali dan hanya di pagi saja, ternyata mampu mengurangi kelelahan dan membantu mengatasi baby blues saya. Akhirnya saya pun bisa berdamai dengan baby blues.

Perjalanan mencari pengasuh bayi pun bukan perkara mudah, beberapa orang sudah kami interview tapi kok ya tidak sreg juga, akhirnya kami memilih mengurusi bayi berdua saja. Ayah mengurus bayi di pagi sampai sore hari saat Ibu bekerja, sedangkan Ibu mengurus bayi di sore-pagi hari sebelum berangkat kerja. Jangan ditanya capeknya dan bagaimana seringnya saya datang ke kantor seperti zombie karena kurang tidur.

Anyway, yang terpenting dari semua penanganan dan antisipasi baby blues adalah dukungan dari orang-orang terdekat terutama keluarga. Carilah orang yang bisa diajak berdiskusi atau curhat, walaupun itu tengah malam buta karena sepengetahuan saya justru tengah malam-lah saat-saat paling kritis ketika kita mengalami baby blues. Orang-orang tersebut antara lain pasangan, sahabat, psikolog, dokter maupun keluarga. Ingat ya readers, kamuΒ tidak bisa menyelesaikan masalah babyblues ini sendirian, kamu membutuhkan bantuan. Jangan lupa untuk menyimpan nomor telepon mereka di first dial ya.

Selamat menikmati perjalanan menjadi ibu, readers! Semoga cerita yang saya bagikan dapat memberikan pencerahan buat kalian semua. Semoga kalian mama-mama kece yang membaca tulisan saya bisa terhindar dari babyblues. πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s