Day#4: Meletus…

Sontag, 24. 10. 2010 “Dorrrr!!”, akupun dikejutkan oleh suara letusan di sebelahku. Kontan aku teriak alay…”Aaah”, takutnya Gas Elpiji yang meledak atau Knalpot mobil kan. “Tuhan aku masih mau makan, tolong jangan kena musibah”, doaku dalam hati siang itu. Gimana tidak, aku kan Cuma mau cari makan, pengorbanannya berat banget sih untuk makan siang kalauLanjutkan membaca “Day#4: Meletus…”

Day #3: Rujak Cingur Ala SMPP/ SMANELA

“Ibuuu… lapar… rujak cingur ya…”, raungku pada pemilik lapak makanan Djawa Timur di pusat pertokoan Pasar Festival daerah Jakarta Selatan. Si ibu pun langsung menanggapi, “Nduk, kenapa ga hadir di acara reuni SMA kemarin? Rame banget lho… Ibu sampai kewalahan ngeladenin pembeli. Kemarin ibu juga dapat pin yang gambarnya hotel Niagara”. Ibu Penjual rujak cingurLanjutkan membaca “Day #3: Rujak Cingur Ala SMPP/ SMANELA”

Day#2 : Jazz Cita Rasa Indonesia

Kamis, 21 Oktober 2010 Seorang kawan memberikan informasi tentang serambi Jazz di Goethe Institut Jakarta sehari sebelumnya, acara Jazz rutin tiap dua bulanan. Seperti biasa, akupun antusias datang ke acara tersebut. Maklum, musik dan tari sudah jadi bagian lekat diriku sejak kecil. Acara musik apapun biasanya aku datang. Anehnya dulu pas jaman kuliah malesss bangetLanjutkan membaca “Day#2 : Jazz Cita Rasa Indonesia”

Day#1 : HARI INI

#1) Hari ini aku disapa oleh seorang anak kecil berbaju seragam sekolah di depan sebuah Mall di Jakarta Selatan. Dia duduk di pojokan jalan sambil dikelilingi 2 kotak besar gorengan. “Selamat sore, kakak. Mau beli Gorengannya?” Aku jawab, “Tidak, adik. Maaf ya”. Akupun tersenyum dan berlalu. Adik kecil itupun kembali menjawab, “Baiklah, Terimakasih kakak”. DiaLanjutkan membaca “Day#1 : HARI INI”

Day #2: Mematut Konflik

“Lo pasti orang gunung ya, Dev?”, kata sang pakar media. ”Heih, kenapa gitu lo bisa tahu?”, tanyaku. ”Iya, soalnya orang gunung gak mudah marah. Beda sama orang pesisir pantai, mereka kebanyakan Temperamental”, ungkapnya. ”Oya, kok bisa orang pesisir lebih temperamen?”, aku bertanya lagi. ”Ya iyalah, secara suhunya jauh lebih panas. Budayanya pun ga kenal basa-basi,Lanjutkan membaca “Day #2: Mematut Konflik”

Day #1 : Mari Tertawa Melihat Masa Depan

Hujan Lagi… Rusuh Lagi… Bencana Lagi… Kenapa ya setiap musim hujan semuanya terasa mellow. Bukankah harusnya hujan menyegarkan, memberi kehidupan. Tapi di awal musim hujan yang kusukai ini semua tampak kelabu…Tak bisa melihat ke depan karena tertutup kabut yang kita ciptakan. Aku pun bertanya pada diri sendiri, masih adakah masa depan yang indah? Ah jadiLanjutkan membaca “Day #1 : Mari Tertawa Melihat Masa Depan”