Day #21: Festival Pembaca Indonesia 2010

6 Desember 2010 Hari ini adalah pestanya mereka yang suka membaca. Hari ini di arena pasar festival kuningan adalah harinya para pecinta buku, pecinta tulisan, dan tentunya pecinta Indonesia. Hampir semua komunitas pecinta buku, penulis dan pembacanya yang berdomisili di Jakarta, baik itu yang berbasis web, e-book, ataupun kertas yang konvensional turut menyemarakkan gegap gempitaLanjutkan membaca “Day #21: Festival Pembaca Indonesia 2010”

Day #12: I do use English but I Love Indonesia

Saat berjalan-jalan di Mall-Mall baik itu di Jakarta maupun di Bandung, kerap saya sadari bahwa masyarakat Indonesia kalangan atas lebih memuja bahasa asing daripada bahasa ibunya sendiri, yakni bahasa Indonesia. Di elevator, di lift, di café-café, saya lebih sering mendengar mereka fasih mengucap “Indonesian” daripada “Indonesia”, dan lebih sering mejawab “yes” daripada “ya”. Mereka fasihLanjutkan membaca “Day #12: I do use English but I Love Indonesia”

Day#8: Disaster Management Expo – Tidak Ada yang Gratis di Dunia

Hari ini aku bertugas menjaga booth sebuah lembaga kemanusiaan internasional dalam DM Expo di PRJ Kemayoran. Banyak lembaga yang concern dengan penanganan bencana hadir dalam acara ini. Acaranya sendiri berlangsung dari tanggal 4-6 November 2010. Meskipun menurutku pribadi acaranya kurang ramai dikunjungi masyarakat umum layaknya pameran elektronik ataupun pameran buku, namun pameran ini cukup kitaLanjutkan membaca “Day#8: Disaster Management Expo – Tidak Ada yang Gratis di Dunia”

Day#2 : Jazz Cita Rasa Indonesia

Kamis, 21 Oktober 2010 Seorang kawan memberikan informasi tentang serambi Jazz di Goethe Institut Jakarta sehari sebelumnya, acara Jazz rutin tiap dua bulanan. Seperti biasa, akupun antusias datang ke acara tersebut. Maklum, musik dan tari sudah jadi bagian lekat diriku sejak kecil. Acara musik apapun biasanya aku datang. Anehnya dulu pas jaman kuliah malesss bangetLanjutkan membaca “Day#2 : Jazz Cita Rasa Indonesia”

Dari Sandwich menuju Cognac

Mencicipi snack sambil menikmati punch Dalam acara kuiz yang ditampilkan sebuah TV swasta kita, para peserta kuiz tidak dapat menjawab sebuah pertanyaan yang menyangkut asal-usul sebuah kata. Pertanyaannya kira-kira begini: “Apa nama makanan yang sekarang digemari anak muda kota besar, yang berasal dari nama orang? Makanan itu berupa dua iris roti berisi daging dan sayur.”Lanjutkan membaca “Dari Sandwich menuju Cognac”

9947 PENDERITA, 8,5 JUTA JIWA

Kata pepatah, manusia tak banyak berubah, namun kota-lah yang mengalami banyak perubahan. Entahlah, tak begitu setuju sebenarnya. Kota yang berubah bukankah atas hasil karya manusia itu sendiri? Bahkan menurut pengamatanku, perubahan planologi kota mau tak mau secara langsung juga turut merubah kebudayaan masyarakat penghuni kota tersebut. Kota yang sekarang aku tinggali beberapa hari lagi akanLanjutkan membaca “9947 PENDERITA, 8,5 JUTA JIWA”

Kalau Aku Jadi Laki-laki….

“Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya…hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya” (Harper Lee – To Kill A Mockingbird) Malang, den 18. Maerz 2009 Kadang puyeng sendiri saat belajar tentang budaya. Apalagi yang membahas segala sesuatu tentang gender. Betapa budaya patriarki danLanjutkan membaca “Kalau Aku Jadi Laki-laki….”