Perbedaan Soft Selling dan Hard Selling, Serta Tips Meningkatkan Penjualan.


Hai, good readers!

Kali ini saya mau berbagi tentang teknik penjualan online. Tulisan ini juga merupakan salah satu material ajar yang saya sampaikan dalam kuliah online via Whatsapp group di salah satu grup UMKM di Malang.

Teman-teman pasti sudah sering mendengar cara jualan online menggunakan teknik soft selling, nah cara jualan apa itu? Apa bedanya jualan soft selling dan hard selling? Kita akan kupas bersama-sama.

Soft Selling yang Empuk.

source: shutterstock.com

Mari kita definisikan dulu apa itu soft selling. Jadi, soft selling adalah teknik penjualan dimana kita tampilan luarnya itu terlihat enggak jualan.

Contohnya, teman-teman pasti pernah lihat fashion blogger atau beauty blogger yang memperagakan baju atau bikin tutorial make up. Saat memperagakan cara make up untuk pesta misalnya, dia pasti akan menyebutkan pake eyeshadow dari brand ini ataupun blush on dari brand yang lain lagi. Nah, itu salah satu teknik soft selling sebenarnya.

Dari penjelasan di atas, bisa kita simpulkan bahwa teknik soft selling adalah teknik berjualan secara tidak langsung. Teman-teman bisa memasukkan informasi tentang produk kita dan bagaimana cara mendapatkannya di tengah-tengah atau di ujung aktivitas soft selling yang kita lakukan.

Hard Selling, Langsung Menuju Sasaran.

source: shutterstock.com

Adapun hard selling adalah teknik penjualan yang mengajak orang untuk membeli produk teman-teman secara langsung. Contohnya adalah iklan di media cetak, televisi, radio, bahkan di social media yang ada ajakan “ayo beli sekarang juga!”.

Pertanyaannya adalah, saat teman-teman berjualan secara online, apakah harus selalu soft sell atau hard sell?

Sebenarnya itu kembali kepada target yang ingin dicapai oleh teman-teman dan juga produk yang tersedia. Saran saya teman-teman harus mengombinasikan kedua teknik tersebut jadi tidak melulu soft sell ataupun hard sell.

Terutama konsumen zaman sekarang lebih pintar dalam melihat manfaat produk. Konsumen zaman sekarang lebih memperhatikan apa sih yang bermanfaat dari produk ini buat saya. Kalau menurut saya sih harus lebih banyak soft sell daripada hard sell memang. Kurang lebih 70-80% soft sell, kemudian 20% nya hard sell.

Tips Optimalisasi Soft Selling dan Hard Selling pada Strategi Marketing.

Berikut beberapa tips bagaimana mengimplementasikan soft selling dan hard selling ke dalam strategi marketing teman-teman.

1. Storytelling

Gambar oleh Tumisu dari Pixabay

Soft selling itu akan menarik apabila teman-teman menyampaikan cerita-cerita inspiratif yang menyentuh hati target audience atau target market teman-teman, tanpa menyuruh mereka membeli. Oleh karena itu, ajak mereka untuk kembali memikirkan nilai-nilai dari produk yang mereka gunakan, produk teman-teman pastinya.

Sebagai contoh, banyak produk bayi saat ini yang memakai teknik storytelling saat membuat iklan. Mereka memberikan informasi bagaimana menjaga tumbuh kembang anak dengan susu, kemudian menjaga keceriaan si buah hati dengan produk-produk bayi.

2. Gunakan Kalimat yang Sederhana

source: shutterstock.com

Soft selling akan kena di hati kalau teman-teman menggunakan bahasa sederhana yang mudah dicerna oleh semua orang. Hard selling biasanya langsung menyebut nama produk, kalau soft selling biasanya menggunakan ilustrasi yang membuat orang mengasosiasikan ilustrasi tersebut dengan produk teman-teman.

Contohnya kalau di dunia provider telekomunikasi, ada penggunaan kata si merah, si kuning dan si biru. Merah itu pasti produk Telkomsel, kuning itu Indosat, dan biru adalah XL. Teman-teman juga bisa menggunakan ilustrasi saat mendefinisikan produk teman-teman.

3. Membuat Konten yang Runut dan Menggiring Orang untuk Membeli (Funneling)

Dalam dunia marketing ada yang disebut dengan funnel, alias membuat tahapan supaya orang tertarik dan kemudian membeli produk teman-teman. Saya berikan contohnya sebagai berikut.

Media promosi funneling menggunakan blog, dan alat untuk menyampaikan ajakan membeli sambal itu adalah artikel. Nah, teman-teman bisa merencanakan untuk membuat 3 artikel yang menggiring opini pembaca untuk membeli produk sambal teman-teman.

Misalnya nih, teman-teman memiliki produk sambal cumi-cumi, nah teman-teman bisa membuat artikel yang runut mengapa orang-orang harus membeli sambal cumi-cumi tersebut tersebut.

Misalnya di artikel pertama, teman-teman bisa membuat tema: “7 Makanan Terpedas di Dunia”. Pada artikel tersebut ternyata sambal di Indonesia peringkat ke 3. Kemudian teman-teman bikin artikel ke dua: “7 Sambal Paling Terkenal di Indonesia”, dalam artikel tersebut ternyata sambal yang paling enak itu ada di Malang.

Selanjutnya di artikel yang ke tiga atau artikel terakhir, temanya adalah “Sambal yang Disukai oleh Para Artis”. Dalam artikel tersebut sambal yang paling disukai oleh artis adalah sambal yang ada di Indonesia, tepatnya dari Malang, dan itu merupakan produk teman-teman. Gampang ya ternyata membuat teknik marketing funneling! 🙂

4. Giveaway atau Membagikan Sample Produk

source: istockphoto.com

Strategi promosi ini cocok untuk produk baru yang teman-teman pasarkan. Tujuannya adalah untuk membuat target audience familiar dengan produk teman-teman sehingga mereka tertarik untuk membeli di kemudian hari. Gak usah disuruh beli, kalau enak dan cocok pasti mereka langsung beli.

Promosi giveaway juga populer sejak menjamurnya online shop. Cara ini cukup efektif untuk menarik minat beli audiens. Strategi ini juga membantu teman-teman membangun hubungan baik dengan pelanggan.

Teknik giveaway yang bisa dipraktekkan adalah, teman-teman bisa minta orang untuk follow akun social media dan tag beberapa teman untuk mendapatkan giveaway tersebut. Giveaway ini hanya bagi yang beruntung alias diundi.

Itu dia penjelasan mengenai soft selling dan hard selling. Semoga bermanfaat buat teman-teman semua, ya. Ini bahasannya memang agak dalam, jadi nanti kalau kurang paham materinya bisa dibaca berulang-ulang. Selamat dipraktekkan! 🙂

Diterbitkan oleh Devi R. Ayu

A proud Mom of #babyD, Penulis, Penerjemah, Konsultan Komunikasi, dan Fasilitator Program Women Will dari Google Gapura Digital untuk kota Malang. Owner dari Cindaga Comms, konsultan komunikasi digital di kota Lawang, Malang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: