Waspada, Ini Dia 9 Tanda Bad Company untuk Kalian Pertimbangkan


deviratnaningayu.com

Dear Good Readers,

Seperti kalian ketahui saya sudah malang melintang di dunia pekerjaan, terutama di bidang komunikasi, sejak tahun 2006. Profesi saya sebagai konsultan membuat saya bertemu dan bekerja sama dengan banyak perusahaan. Dari sana, saya belajar berbagai karakteristik perusahaan.

Setiap pekerjaan pasti ada tantangannya, dan tentu saja beda cara dalam menangani setiap hambatan yang hadir. Oleh karena itu, dalam hal pekerjaan saya mengembangkan kepribadian yang tidak mudah kaget dan cenderung kalem-kalem saja, apalagi di dunia komunikasi kita harus luwes, tapi saat harus bertindak ya saya harus tegas.

Contohnya beberapa waktu yang lalu, saya bertemu dengan seorang pengusaha yang melontarkan pernyataan nyelekit tapi membangunkan saya. Dia bilang, “emangnya dengan background pendidikanmu, kamu bisa apa?” Ooo wow, saya langsung membatin, jadi sekarang hanya orang-orang dengan background pendidikan tertentu ya yang diperhitungkan dan bisa membawa perubahan (apalagi yg lulusan luar negeri pastinya).

Terus terang saya kaget hal semacam ini keluar dari pemikiran seorang pengusaha (well, pengusaha sukses dalam bayangan saya adalah orang-orang yang selalu bilang bisa untuk hal-hal yang orang biasa bilang tidak mungkin). Dengan company culture seperti ini, beliau berambisi membangun sebuat start-up yg nantinya jadi unicorn. Saya yakin bisa kok perusahaannya jadi unicorn suatu saat nanti karena saat ini belum ada yang menggarap ceruk pasarnya. Hanya saja company culturenya harus sedikit dibereskan.Β Saya pun memutuskan untuk tidak bekerja sama dengan perusahaan ini.

Kejadian hari itu membuat saya berkontemplasi bahwa tidak seharusnya jabatan atau posisi yang tinggi itu membuat kita merendahkan orang lain, apapun latar belakangnya, serta sibuk judge sana-sini. Saya pun tetiba jatuh iba dengan karyawan yang bernaung di perusahaan ini. Dan akhirnya membuat tulisan ini.

Nah, supaya kalian tidak terjebak dengan ‘bad company’ coba dilihat 9 tanda dari perusahaan yang harus kalian waspadai. Kalau salah satunya ada di perusahaan kalian, ada baiknya kalian mempertimbangkan untuk mencari perusahaan lain untuk tempat bernaung.

1. Jangan Bergabung dengan Perusahaan yang Menahan Ijazah atau BPKB.

Jadi begini, ijazah itu diusahakan atas jerih payah kalian, perusahaan tidak ada sangkut pautnya dalam hal pencapaian sekolah kalian (kecuali kalian bersekolah dibiayai oleh perusahaan ya). Perusahaan yang hendak menahan ijazah dan BPKB karyawan artinya tidak memiliki kepercayaan terhadap karyawan dan pastinya selalu merasa insecure. Kalian kan sudah mendedikasikan waktu untuk bekerja memajukan perusahaan dan imbalannya adalah mendapat gaji, jadi kalau ditambahi harus ditahan ijazah dan BPKB, memangnya kalian berhutang apa sama perusahaan.

Jadi cek baik-baik di form calon karyawan dan kontrak perusahaan apakah kalian diminta untuk menyerahkan ijazah saat diterima kerja. Kalau iya, segera protes dan bilang bahwa perbuatan tersebut bisa kalian laporkan ke yang berwajib karena melanggar hukum dan HAM. Ini salah satu tautan yang bisa kalian jadikan acuan: http://jateng.tribunnews.com/2017/11/16/bolehkah-perusahaan-menahan-ijazah-karyawannya-inilah-aturan-hukumnya?page=3

2. Jangan Bergabung dengan Perusahaan yang Tidak Memberikan Pesangon Ketika Terjadi PHK.

Saat mengisi form lamaran kerja, coba dilihat baik-baik, adakah tulisan dari perusahaan yang menyatakan tidak akan memberikan pesangon apabila terjadi kesalahan yang timbul dari karyawan? Kalau ada tulisan ini, mendingan gak usah bekerja dengan perusahaan tersebut, karena suatu hari nanti saat kalian mengundurkan diri atau terjadi masalah, perusahaan sewaktu-waktu bisa menendang karyawan tanpa pesangon apapun padahal belum tentu kesalahan tersebut murni kesalahan karyawan. Pada kenyataannya setiap hasil kerja bawahan harus dapat approval dari atasan, dalam hal ini atasan juga turut berpartisipasi seandainya ada masalah yang timbul terkait kinerja bawahan.

3. Jangan Bergabung dengan Perusahaan yang Tidak Memperlakukan Kalian dengan Baik saat Proses Rekruitmen.

Berikut salah satu contohnya, kalian diundang untuk proses rekruitmen dari pagi sampai sore. Kalian tidak diinformasikan untuk membawa bekal makanan atau uang lebih untuk membawa makanan. Saat hari H, ternyata kalian tidak diberikan konsumsi seperti makan siang, snack, ataupun sekadar minuman pelepas dahaga. Bahkan, saat jam istirahat kalian tidak dipersilakan untuk sholat bagi yang muslim atau diperkenankan untuk membeli makan siang pengganjal perut. Intinya kalian dibiarkan duduk menunggu dan kelaparan. Nah, kalau dari awal aja perusahaan sudah ignorant dengan calon karyawan, bagaimana saat sudah jadi karyawan?

4. Jangan Bergabung dengan Perusahaan yang Tidak Membaca CV Kalian.

Sayangnya hal ini sering terjadi. Akhirnya saat interview, HRD dan manajemen perusahaan mengeluarkan pertanyaan yang aneh-aneh dan cukup melantur. Bahkan ada juga perusahaan yang sengaja melakukan interview dengan harapan calon karyawan jadi keok, nah ini sebenarnya cari pesuruh atau cari mitra kerja? Mohon maaf, bagi saya bekerja di perusahaan adalah menjadi mitra sepadan. Posisi saya adalah partner perusahaan, bersama-sama kami satu visi memajukan perusahaan.

5. Jangan Bergabung dengan Perusahaan yang merendahkan Latar Belakang Kehidupan, Pendidikan, bahkan Kemampuanmu.

Hal ini juga sering terjadi, terutama saat interview. Opini mereka soal tampang pas-pasan, outfit biasa saja, bahkan latar pendidikan bukan dari universitas ternama harusnya jadi rahasia perusahaan dan tim assesment, kalau sampai hal ini keluar dari mulut interviewer dan management rasanya kalian sudah tahu company culture di perusahaan seperti ini harus dihindari.

6. Jangan bergabung dengan Perusahaan yang Tidak Memberikan Fasilitas yang Memadai kepada Karyawannya.

Bagaimana saya bisa tahu soal hal ini, kan kalian masih dalam proses rekruitmen? Gampang saja, kalian cukup pergi ke kamar mandi atau mushola perusahaan. Apakah perusahaan memberikan fasilitas sanitasi yang baik bagi karyawan? Kamar mandinya diurusi dengan baik kah? Apakah ruangan berdoa bagi karyawan cukup nyaman? Adakah ruangan bagi ibu menyusui untuk memerah ASI atau meletakkan ASIP di kulkas?

Kantor ibaratnya adalah rumah kedua, karena setiap hari kita bekerja di sana 8-9 jam sehari. Kalau hal yang simple semacam di atas tidak ada, lebih baik urungkan bergabung dengan perusahaan tersebut.

7. Jangan Bekerja Sama dengan Perusahaan yang Suka Telat Bayar Invoice atau Gajian.

Ini juga sering terjadi, tidak hanya di perusahaan kecil tapi juga di perusahaan besar. Kalau invoice yang telat dibayar mungkin kita masih bisa sabar, tapi kalau gajian karyawan yang mundur, nah ini harus dipertanyakan. Saya soalnya punya prinsip, bayarlah jerih payah karyawan dan partner sebelum keringat mereka mengering. Apabila kejadian telat bayar invoice dan gaji terjadi terus-terusan kan ya ngeselin. Apalagi jadwal tagihan kita gak pernah mundur. Kalau kalian punya opsi bekerja di tempat lain ada baiknya kalian pertimbangkan opsi tersebut.

8. Perusahaan Menyalahkan Kalian atas Kesalahan Mereka? Ciao Saja!

Ini pernah terjadi pada saya. Perusahaan yang mengontak saya tidak memberikan batasan dan deskripsi yang jelas apa yang diinginkan oleh konsumen. Contohnya begini, saat kita diminta menulis sesuatu kita pasti tanya dulu keyword seperti apa yang diinginkan, contoh tulisan yang diinginkan, apa yang harus ditulis dan apa yang tidak harus ditulis. Apalagi perusahaan tersebut memiliki inhouse-editor, pastinya kita harus kontak aktif dengan editornya, sehingga apabila terjadi kesalahan editor langsung menghubungi kita supaya kita bisa melakukan revisi.

Namun yang terjadi adalah, contoh tulisan yang diberikan ternyata tidak sesuai dengan yang diinginkan oleh klien, kemudian apa yang harus ditulis dan apa yang seharusnya tidak ditulis juga tidak disertakan, fatalnya lagi mereka memiliki editor in house yang malas berkontak dengan penulis yang di-hire sehingga editor merevisi tanpa berkontak dengan penulis. Lalu klien perusahaan pun protes terhadap hasil tulisan, kok tidak seperti yang diinginkan dan perusahaan yang hire pun ‘put the blame on you’.

Saya pun tidak terima, saya bilang semua berdasarkan instruksi yang diterima sebelumnya (dan contoh artikel yang disertakan), plus katanya memiliki editor in-house lha kok masih bisa tidak memuaskan hasil tulisannya (wondering kemampuan editornya), harusnya editornya berkontak dengan penulis kalau memang tulisannya tidak sesuai dengan yang diharapkan bukannya langsung menyalahkan penulis. Akhirnya saya putuskan untuk memasukkan perusahaan tersebut dalam daftar hitam saya. Yuk mariii…ogah banget kerja sama dengan perusahaan yang mau enaknya saja dan pada akhirnya minta korting atas hasil tulisan saya. Lha salahnya siapa kok di ujung-ujungnya minta korting.

9. Lowongan Pekerjaannya mengandung Tulisan ‘Able to Work Underpressure’? Dadahin aja!

Ini indikasi yang jelas supaya kalian jauh-jauh dari perusahaan seperti ini. Bukan karena kita tidak bisa kerja dalam tekanan ya, tapi saya orangnya cenderung suka perusahaan yang memilih kata-kata positif saat mengiklankan sebuah lowongan kerja di perusahaan mereka. Contohnya: Karyawan dapat menemukan suasana kerja yang meyenangkan dan kekeluargaan di perusahaan kami. Bukan suatu rahasia lagi bahwa banyak perusahaan pun mengganti nama divisi HRD mereka dengan Happiness Division karena mereka punya prinsip kerja di perusahaan itu harus hepi.

Nah itu dia beberapa tanda ‘bad company’ yang harus kalian hindari. Kalian bisa memilih untuk bekerja dengan siapa dan di perusahaan apa. Betul enggak? Yuk share pendapat kalian di kolom komentar ya πŸ™‚

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.