Apa Jadinya Dunia Ketika Kreator Menguasai Dunia?


Hello, good readers!

Saya mendapat pertanyaan ini dari Getcraft,Β salah satu agency penulisan tempat saya bernaung, “seperti apa jadinya dunia, ketika kreator menguasai dunia?”. Saya yakin, jawabannya adalah kreator alias pekerja kreatif akan membuat dunia jadi tempat yang indah dan penuh kreativitas.

Kenapa saya begitu yakin dengan jawaban tersebut? Sebab, dunia yang dipenuhi dengan orang yang kreatif dan positif akan menghindarkan kita dari iri dengki (meskipun tidak 100% sih, saya masih punya iri sama orang-orang kreatif yang bisa wara wiri dengan pesawat jet pribadi kalau kemana-mana), membuat sebuah negara atau perusahaan lebih inovatif (gak mau kalah dalam menghasilkan karya-karya terbaru yang belum pernah ada sebelumnya), dan tentunya penuh warna dengan lahirnya berbagai karya indah semisal tulisan, lukisan, dan karya seni lainnya.

Alasan lain mengapa kita harus menelurkan banyak kreator di seluruh dunia adalah:

1. Meningkatkan Devisa dan Penghasilan Negara atau Suatu Daerah.

dollar-currency-money-us-dollar-47344.jpeg
Photo by Pixabay on Pexels.com

Kok bisa? Ya bisalah. Kalian pasti pernah dengar cerita bagaimana suatu daerah kumuh disulap menjadi daerah yang rapi dan penuh warna-warni sehingga mengundang banyak wisatawan datang hanya dengan goresan warna di tembok kan? Begitulah efek yang ditimbulkan oleh seorang kreator, dengan ide yang brilian serta niatan yang tulus untuk membangun masyarakat, daerah yang dulunya hanya dilalui saja (bahkan wilayahnya hendak digusur) malah jadi pusat wisata yang terkenal saat ini. Tidak usah jauh-jauh mencari tahu dimana lokasi tempat itu, karena contoh nyata tersebut ada di Indonesia, salah satunya kampung warna-warni Jodipan yang terletak di Malang.

2. Meningkatkan Taraf Hidup Pekerja Kreatif.

bunch of white oval medication tablets and white medication capsules
Photo by Pixabay on Pexels.com

Dengan semakin banyak peluang yang bisa dikerjakan oleh pekerja kreatif (plus penghargaan yang layak), otomatis taraf hidup pekerja kreatif dan mereka yang bekerja di industri kreatif akan meningkat. Sehingga efeknya mereka pun bisa mencicil rumah untuk di kemudian hari ataupun investasi reksada untuk masa depan (curhatan mamak-mamak yang ingin punya rumah gedong πŸ˜€ πŸ˜€ ).

Semua orang tahu lah, good readers, bahwa penghargaan bagi pekerja kreatif masih di bawah ekspetasi. Saya seringkali curhat-curhatan dengan sesama pekerja kreatif semisal, penulis, designer, dan film maker. Kadang kerja keras keras mereka hanya dibayar dengan “thank you” saja atau upah yang di bawah kelayakan. Kalau tujuannya untuk charity atau kerja sosial biasanya kawan-kawan pekerja kreatif oke-oke saja lho, readers, hanya dibayar dengan thank you serta upah ala kadarnya.

Tapi kalian juga harus ingat bahwa mereka sekolah cukup tinggi lho untuk menjadi orang yang seperti sekarang serta belajar dari banyak orang. Kalian juga harus ingat mereka juga mempunyai tanggung jawab untuk menghidupi diri sendiri serta keluarga mereka. Jadi, alangkah eloknya apabila kalian bekerja sama dengan para pekerja kreatif, kalian juga memikirkan hal ini.

Terlebih, proses mencari ide itu bukanlah hal yang gampang, readers. Ada sobat saya pekerja kreatif yang harus ngendon dulu di toilet beberapa lama buat mencari inspirasi. Nah, kalau saya sih tipenya harus refreshing dulu untuk mendapat ide seperti jalan-jalan atau membaca buku. Jadi, sebenarnya butuh banyak effort juga untuk menelurkan suatu karya kreatif yang mumpuni.

3. Membuka Lapangan Pekerjaan yang Lebih Luas dan Pro Terhadap Keluarga.

adult adventure baby child
Photo by Pixabay on Pexels.com

Lapangan pekerjaan mainstream yang banyak diminati oleh orangtua kita adalah PNS alias civil servant. Alasannya tak lain dan tak bukan karena PNS bebas dari pemecatan (zaman dahulu) dan gajinya pasti setiap bulan, serta dapat tunjangan kesehatan serta dana pensiun.Hayo ngaku siapa diantara kalian yang dipaksa oleh orangtuanya buat jadi PNS?

Adapun generasi Xenials lebih memilih untuk jadi karyawan di BUMN atau Multinational Company karena gaji yang ditawarkan biasanya lebih besar dan kesempatan untuk naik karir dan jabatan juga terbuka lebih lebar karena penilaiannya berdasarkan prestasi.

Untuk anak millenial tampaknya menjadi PNS dan karyawan perusahan multinasional sudah tidak terlalu menarik. Banyak dari mereka yang bekerja freelance sebagai pekerja kreatif, ataupun bekerja remote dari rumah, dan bahkan menjadi pengusaha.

Iming -iming tunjangan kesehatan dan dana pensiun sudah bukan prioritas lagi bagi para millenials karena kalau mau dapat jaminan kesehatan mereka bisa ikut Asuransi Kesehatan. Sedangkan untuk dana pensiun, anak muda masa kini bisa ikutan DPLK Mandiri atau Investasi Jangka Panjang di Reksadana. Jamsostek alias BPJS Ketenagakerjaan sendiri pun juga menyediakan layanan pensiun secara mandiri. Intinya, gak usah khawatir dengan dana pensiun meskipun kalian bekerja di perusahaan swasta.

Beberapa waktu belakangan ini saya juga memilih melakukan kerja kreatif dari rumah. Alasan saya untuk melakukan kerja kreatif secara remote karena sewaktu saya bekerja kantoran, saya kekurangan waktu untuk bermain dan berinteraksi dengan anak saya. Bayangkan saja, saya berangkat kerja ketika anak belum bangun, dan seringkali pulang ke rumah ketika anak saya menjelang tidur atau bahkan sudah tidur. Saya tidak punya kebebasan waktu bersama keluarga.

Untuk itulah saya akhirnya bercita-cita untuk memiliki perusahaan sendiri dan membuka lapangan kerja kreatif, terutama bagi ibu-ibu tanpa harus khawatir kehilangan waktu bersama buah hati mereka. Perusahaan yang pro terhadap keluarga ini bisa bergerak di banyak hal, tapi yang jadi impian saya adalah membangun perusahan marketing communication sendiri dan memiliki perusahaan yang bergerak di baby apparel dan produk-produk organik. Hahaha banyak ya idenya. Jadi walaupun nanti harus kerja kantoran lagi setidaknya perusahaan yang saya bangun nanti tetap mengayomi keluarga para karyawannya.

Aminkan keinginan saya ya, readers! πŸ™‚

Saya juga bercita-cita anak saya nanti jadi orang yang kreatif dan innovatif. Sayangnya orang yang inovatif awalnya sering dijauhi oleh komunitas di sekelilingnya karena frekuensi otaknya yang tidak sama dengan orang-orang di sekelilingnya. Saya tidak mau itu kejadian dengan anak saya.

Oleh karena itu, saya memimpikan ke depannya dunia dipimpin oleh orang-orang kreatif sehingga ide kreatif (seaneh apapun) tidak akan dianggap sebelah mata dan anak saya tidak dijauhi dalam pergaulan. πŸ™‚ Kalian yang sudah punya anak juga punya pemikiran seperti saya kah? Yuk wujudkan dunia yang lebih kreatif dan indah buat anak-anak kita, readers.

Go creator! Let’s rule the world!

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s