Day #13: SANG LIYAN


“Adanya yang lain adalah demikian penting. Dengan adanya system alternative, system yang lain, maka kita bisa tahu bahwa system yang pertama bukanlah satu-satunya kebenaran. Agar jangan manusia sombong karena menganggap keping yang mereka miliki sebagai seluruh gambaran.”
-Manjali dan Cakrabirawa, hal 16 –

Kenapa harus ada yang lain? Kenapa memilih menjadi yang lain? Jawaban terbaik yang aku punyai sampai saat ini adalah, dengan kita mengetahui yang lain maka kita pun tahu bahwa kita tidak sepenuhnya benar. Masih banyak hal lain yang lebih baik dan lebih benar,dan semua itu mungkin bukan dari sudut pandang kita saat ini.

Yang lain mengingatkan kita akan adanya begitu banyak pilihan. Kemanapun kita memilih tak sepenuhnya salah ataupun benar, tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Bahkan dunia memiliki 8 penjuru mata angin untuk bisa melihat. Salah atau benar hanyalah atribut yang kita tempelkan pada suatu sudut yang kita beri nama sudut pandang.

Yang lain dalam kehidupan percintaan misalnya, mengingatkan kita bahwa orang yang kita cintai sepenuhnya manusia, ada kurang dan ada lebihnya, tidak sempurna. Jika kita ingin meninggalkannya karena ketidaksempurnaannya, maka itu adalah pilihan kita. Ataupun kita ingin berdamai dengan segala ketidaksempurnaan yang ada karena kita pun tahu bahwa diri kita bukanlah manusia yang sempurna, maka itupun hak kita. Setiap pilihan salah dan benar terletak pada sudut pandang… Dan apakah kita mau meletakkan sudut pandang kita pada orang yang kita pandang saat ini?

Yang lain membuatku paham bahwa aku tidak bisa memberikan pengampunan atas kesalahan. Yang kuasa atas pengampunan hanyalah Tuhan. Yang bisa kulakukan hanya memaafkan dan berdamai. Dan memang benar memaafkan bukan berarti melupakan, karena bekas memang selalu tertinggal. Bekas itu tertiup angin dan menyublim ke sebuah ruang kecil yang dinamai pojok ingatan.

Dan ingatan itu bisa dipanggil kembali, tak pelak maka pepatah luka lama, cinta lama, pun bisa bersemi kembali. Maka aku memilih berdamai. Berdamai adalah hidup berdampingan, mengetahui secara sadar bahwa yang lain itu ada, pojok ingatan pun ada. Damai bagiku bukanlah ketiadaan konflik, namun bagaimana kita menghadapi konflik yang ada.

Yang lain dalam kehidupanku sebagai manusia dari suatu bangsa dan Negara adalah salah satu alasanku untuk selalu berdamai. Berdamai dari segala perbedaan, karena perbedaan sejatinya ada agar kita mudah dikenali. Pada setiap orang lewat selalu kukatakan, “aku adalah yang lain bagi dirimu”. Setiap kita adalah yang lain untuk orang lain. Kita sadari atau tidak, ternyata yang lain adalah pemelihara atas kerendahan hati dan ketulusan sebagai manusia.Sang Liyan selalu mengajarkan perdamaian.

9 thoughts on “Day #13: SANG LIYAN

      • itulah ok km dev, terkadang ingatan tentang kamu membawaku sampai kepuncak gunung wedon hahahaha. km ingat gak waktu kita disatroni ma perompak yg badanya penuh tato..

      • xixixix..makasih dibilang oke:D inget banget lah..pulang sekolah, naik gunung, perempuan sendiri, eh di puncak gunung disatronin begal 😀 udah berapa tahun berlalu ya… lucu kalo dikenang 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s